Langsung ke konten utama

Gelabah desuk

Terjebak di jaring
Ku tak bisa mengiring
Nada hati yang garing
Di jiwa yang miring

Terlepas dalam jebak
Racun dalam benak
Seakan mengalir dalam darah
Di urat kaki dan kepala

Tegak kaki bergetar
Di atas bumi yang gempar
Hiruk belahan jiwa yang mengirat
Jiwa yang terlepas dari dekapan

Hitung coba kau hitung
Tetes air hujan yg turun Dari segumpal awan berat
Jikalau kau bisa hitung
Dirimu itu pasti berbohong

Cintaku yang menghilang
Bagaikan tetes hujan yang menguap.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak bisa

Rona wajahmu sahda dimataku Hilir sungai melewati cakrawala Ragamu raksi melawan sepi Gersik mengusikku Dewala kersang ditimpa panas yang bergejolak Jelih matamu berlinang-linang Lentus mengusap jemariku Yang meringis menyentuhmu

Takdir nelayan

Kayu rapuh terombang-ambing Laut mengganas dengan ombaknya Bising angin menerpa layar Kelam langit ingin membunuh Megap-megap nelayan gundah Menengah merapah doa kepada Tuhan Deraian air mata memohon pertolongan Cetar petir awan hitam Tangan Kacar tiang layar Lencir abun-abun untuk selamat Namun sampan telangkup nelayan terlerai Nelayan terbawa ombak ganas

JIWA TERLEPAS

Dulu engkau selalu senyum dengan semua orang Tutur bahasa nan indah kau berikan Hati yang lemah lembut tersampaikan Jiwa tenang membawa kedamaian Hari demi hari ragamu melemah Terdengar nafas tersendak-sendak Keriput seluruh tubuhmu Rambut memutih karena waktu Ketika kau terbaring lemah Semua menangis dihadapanmu Tak tahu kapan ajal menjemputmu Tapi kau masih bisa tersenyum Jiwa terlepas oleh raga Hembusan nafas seketika lenyap Mengeras diseluruh tubuh Batin mengetuk untuk mengikhlaskanmu