Langsung ke konten utama

Makan syaitan

Suara hanya terlintas di angin
Hanya lewat tak menyinggahi
Diatas kursi, derita tak terdengar
Hanya terdengar bisikan syaitan

Menunggu, menunggu hingga tua menanti
Tak ada jawaban disini
Lesuh wajah pribumi
Melihat gelak tawa di kursi

Mengayunkan kaki di atas meja
Melupakan segala janji mereka
Sembunyi menyembunyikan diri
Tak ingin jatuh harga diri

Wajah serakah akan nampak
Disaat mereka dilaknat
Suara yang gelegar
Tak gentar oleh derita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak bisa

Rona wajahmu sahda dimataku Hilir sungai melewati cakrawala Ragamu raksi melawan sepi Gersik mengusikku Dewala kersang ditimpa panas yang bergejolak Jelih matamu berlinang-linang Lentus mengusap jemariku Yang meringis menyentuhmu

Takdir nelayan

Kayu rapuh terombang-ambing Laut mengganas dengan ombaknya Bising angin menerpa layar Kelam langit ingin membunuh Megap-megap nelayan gundah Menengah merapah doa kepada Tuhan Deraian air mata memohon pertolongan Cetar petir awan hitam Tangan Kacar tiang layar Lencir abun-abun untuk selamat Namun sampan telangkup nelayan terlerai Nelayan terbawa ombak ganas

JIWA TERLEPAS

Dulu engkau selalu senyum dengan semua orang Tutur bahasa nan indah kau berikan Hati yang lemah lembut tersampaikan Jiwa tenang membawa kedamaian Hari demi hari ragamu melemah Terdengar nafas tersendak-sendak Keriput seluruh tubuhmu Rambut memutih karena waktu Ketika kau terbaring lemah Semua menangis dihadapanmu Tak tahu kapan ajal menjemputmu Tapi kau masih bisa tersenyum Jiwa terlepas oleh raga Hembusan nafas seketika lenyap Mengeras diseluruh tubuh Batin mengetuk untuk mengikhlaskanmu